5 Kata Mutiara Raden Ajeng Kartini

sejarah-ra-kartini

Siapa yang tak mengenal nama R.A. Kartini?

Beliau merupakan pahlawan wanita yang berasal dari Indonesia. Beliau sering kali disebut sebagai Pahlawan Nasional yang memberi harapan dan juga Cahaya bagi para wanita di Indonesia demi memperoleh pendidikan dan kesempatan berkarya sebesar para pria saat masanya dahulu. Dan kini banyak sekali yang telah berhasil menjadi wanita karir seperti membuka toko perlengkapan tinju ataupun yang bekerja di kantoran.

Selain sebagai Pahlawan Nasional, ibu Raden Ajeng Kartini pun dikenal sebagai penulis buku yang berjudul, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Di buku tersebut banyak sekali kata-kata yang dapat membangkitkan mental para wanita Indonesia. Apa sajakah kata-kata tersebut?

Berikut adalah 5 kata mutiara Raden Ajeng Kartini:

  1. “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya. – R. A. Kartini”
  2. “Adakah yang lebih hina, daripada bergantung kepada orang lain? – R. A. Kartini”
  3. “Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. – R. A. Kartini”
  4. “Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya, baik tidak terpaksa baikpun karena terpaksa, haruslah juga segan menyakiti mahkluk lain, sedikitpun jangan sampai menyakitinya. Segenap cita-citanya kita hendaklah menjaga sedapat-dapat yang kita usahakan, supaya semasa mahkluk itu terhindar dari penderitaan, dan dengan jalan demikian menolong memperbagus hidupnya: dan lagi ada pula suatu kewajiban yang tinggi murni, yaitu “terima kasih” namanya. – R. A. Kartini”
  5. “Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam. – R. A. Kartini”
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply